1. Legenda Batu Menangis
Di sebuah desa terpencil Kalimantan Barat, tinggallah seorang gadis dan ibunya. Gadis itu cantik, tapi sayangnya ia sangat malas. Selain malas, gadis itu juga manja. Apa pun yang dimintanya harus selalu dikabulkan. Tentu saja keadaan ini membuat ibunya sangat sedih.
Suatu hari, ibunya meminta anak gadisnya menemaninya ke pasar. “Boleh saja, tapi aku tak mau berjalan bersama-sama dengan Ibu. Ibu harus berjalan di belakangku,” katanya. Walaupun sedih, ibunya mengiyakan. Maka berjalanlah mereka berdua menuruni bukit beriringan. Walaupun mereka ibu dan anak, mereka kelihatan berbeda. Seolah-olah mereka bukan berasal dari keluarga yang sama. Bagaimana tidak?
Anaknya yang cantik berpakaian sangat bagus. Sedang ibunya kelihatan tua dan berpakaian sangat sederhana. Di perjalanan, ada orang menyapa mereka. “Hai gadis cantik, apakah orang yang di belakangmu ibumu?” tanya orang itu. “Tentu saja bukan. Dia adalah pembantuku,” kata gadis itu. Betapa sedihnya ibunya mendengarnya.
Tapi dia hanya diam. Hatinya menangis. Begitulah terus-menerus. Setiap ada orang yang menyapa dan menanyakan siapa wanita tua yang bersamanya, si gadis selalu menjawab itu pembantunya.
Lama-lama sang ibu sakit hatinya. Ia pun berdoa, “Ya, Tuhan, hukumlah anak yang tak tahu berterima kasih ini,” katanya. Doa ibu itu pun didengarnya. Pelan-pelan, kaki gadis itu berubah menjadi batu. Perubahan itu terjadi dari kaki ke atas. “Ibu, ibu! Ampuni saya. Ampuni saya!” serunya panik. Gadis itu terus menangis dan menangis. Namun semuanya terlambat. Seluruh tubuhnya akhirnya menjadi batu. Walaupun begitu, orang masih bisa melihatnya menitikkan air mata. Karena itu, batu tersebut diberi nama 'Batu Menangis'.
1 of 5
Malin Kundang
2. Malin Kundang
Cerita ini merupakan cerita terkenal dari Sumatera Barat yang mengisahkan seorang pemuda bernama Malin Kundang yang tinggal bersama ibunya, bapaknya sudah lama merantau dan belum kembali pulang. Pada suatu hari, Malin Kundang ingin sekali merantau karena ia melihat seseorang yang telah kembali merantau menjadi orang kaya. Malin berharap dengan merantau ia akan membantu keadaan ekonomi keluarganyayang buruk.
Dengan berat hati si Ibu mengizinkan Malin pergi. Keesokan harinya Malin pergi ke kota besar dengan menggunakan sebuah kapal. Setelah beberapa tahun bekerja keras, dia berhasil di kota rantauannya. Malin sekarang menjadi orang kaya yang bahkan mempunyai banyak kapal dagang. Malin pun sudah menikah dengan anak seorang saudagar kaya juga.
Suatu hari Malin Kundang kembali ke kampung halamannya. Dia pun berangkat bersama istrinya. Kedatangan Malin disambut dengan rindu oleh ibunya, tetapi Malin malah menolak ibunya karena malu ibunya terlihat tua dan miskin. Ibu Malin menjadi murka dan mengutuk Malin yang durhaka menjadi batu. Batu Malin Kundang ini terletak di daerah Air Manis di Suatera Barat dan menjadi objek wisata bagi para turis.
2 of 5
Si Lancang
3. Si Lancang
Kali ini cerita ini berasal dari Negeri Melayu Riau. Pada masa dulu di daerah Kampar, tinggallah seorang pemuda bernama si Lancang. Ia tinggal bersama ibunya yang sudah tua, menempati sebuah gubuk reot. Suatu hari, si Lancang mohon izin kepada ibunya untuk pergi merantau mencari uang.
Dengan hati yang sedih, emaknya akhirnya mengizinkan si Lancang pergi merantau. Setelah merantau sekian lama, akhirnya si Lancang sukses menjadi seorang saudagar yang kaya raya. Kapal dagangnya berpuluh jumlahnya, anak buahnya cukup banyak dan istrinya pun sangat cantik. Suatu hari si Lancang mengajak istrinya untuk pergi berdagang ke tanah Andalas.
Akhirnya kapal si Lancang yang megah tersebut merapat ke kawasan Sungai Kampar, yakni kampung halaman si Lancang sendiri. Alangkah bahagianya emak si Lancang mendengar kabar kedatangan anaknya. Emak langsung menemui si Lancang dan memanggil anaknya. Namun tanpa diduga, si Lancang berkata, “Bohong! Dia bukan emakku. Usir dia dari kapalku!” teriak si Lancang. Rupanya si Lancang malu untuk mengakui kondisi ibunya yang sudah tua dan miskin tersebut.
Dengan hati yang sangat sedih, Emak pulang ke gubuknya. Emak memutar-mutar lesung dan mengipasinya dengan nyiru sambil berkata, “Ya Tuhanku, si Lancang telah aku lahirkan dan aku besarkan dengan air susuku. Namun setelah menjadi orang kaya, dia tidak mau mengakui diriku sebagai emaknya. Ya Tuhanku, tunjukkan padanya kekuasaan-Mu!”.
Tiba-tiba saja kondisi cuaca berubah dan turun hujan yang sangat lebat. Kapal si Lancang hancur berkeping-keping. Kain sutra yang dibawa si Lancang sebagai barang dagangan terbang melayang-layang kemudian jatuh berlipat-lipat dan menjadi Negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri. Sebuah gong terlempar jauh dan jatuh di dekat gubuk Emak si Lancang di Air Tiris Kampar kemudian menjadi Sungai Ogong di Kampar Kanan.
Sebuah tembikar pecah dan melayang menjadi Pasubilah yang terletak berdekatan dengan Danau si Lancang. Di danau itulah tiang bendera kapal si Lancang tegak tersisa. Bila sekali waktu tiang bendera itu muncul ke permukaan yang menjadi pertanda bagi masyarakat Kampar akan terjadi banjir di Sungai Kampar. Banjir itulah air mata si Lancang yang menyesali perbuatannya yang durhaka kepada Emaknya.
_________________________________________
Lirik lagu : Rapuh
Artis : Opick, 7 januari 2018
detik waktu terus berjalan
berhias gelap dan terang
suka dan duka tangis dan tawa
tergores bagai lukisan
seribu mimpi berjuta sepi
hadir bagai teman sejati
di antara lelahnya jiwa
dalam resah dan air mata
kupersembahkan kepadaMu
yang terindah dalam hidup
meski ku rapuh dalam langkah
kadang tak setia kepadaMu
namun cinta dalam jiwa
hanyalah padaMu
maafkanlah bila hati
tak sempurna mencintaiMu
dalam dadaku harap hanya
diriMu yang bertahta
detik waktu terus berlalu
semua berakhir padaMu
berhias gelap dan terang
suka dan duka tangis dan tawa
tergores bagai lukisan
seribu mimpi berjuta sepi
hadir bagai teman sejati
di antara lelahnya jiwa
dalam resah dan air mata
kupersembahkan kepadaMu
yang terindah dalam hidup
meski ku rapuh dalam langkah
kadang tak setia kepadaMu
namun cinta dalam jiwa
hanyalah padaMu
maafkanlah bila hati
tak sempurna mencintaiMu
dalam dadaku harap hanya
diriMu yang bertahta
detik waktu terus berlalu
semua berakhir padaMu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar